TUMBUH KIWARI
Materi Edukasi · KSM Anak RSUD Bandung Kiwari

Cegah stunting, ukur rutin sejak lahir

Panduan singkat tentang apa itu stunting, mengapa terjadi, dampaknya, dan cara mencegah serta menanganinya bersama keluarga, posyandu, puskesmas, dan rumah sakit.

Disusun dari materi dr. Muhammad Kautsar, Sp.A · Penguatan Jejaring Rujukan Penanganan Stunting dan Wasting

  • 21,5%Prevalensi stunting di Indonesia tahun 2023 (SKI)
  • −16,1Poin persentase turun dalam 10 tahun, dari 37,6% pada 2013
  • 1,7×Lonjakan dari usia 6-11 bulan (13,1%) ke 12-23 bulan (22,7%)
Bagian 1

Untuk Masyarakat

Mengenal stunting

Apa itu stunting?

Stunting adalah kondisi ketika panjang atau tinggi badan anak berada di bawah −2 SD (garis merah) pada kurva pertumbuhan WHO sesuai jenis kelaminnya. Stunting adalah kekurangan gizi kronik, artinya terjadi dalam waktu lama.

Stunting tidak muncul tiba-tiba. Tanda awalnya adalah kenaikan berat badan yang melambat dari kurva yang seharusnya. Karena itu menimbang dan mengukur anak setiap bulan sangat penting.

Pendek belum tentu stunting

Anak bisa pendek karena faktor keturunan atau kondisi lain, dengan gizi yang baik.

Stunting sudah pasti pendek

Stunting selalu disertai tubuh pendek akibat kurang gizi jangka panjang.

Bagaimana terjadinya

Perjalanan kekurangan gizi pada anak

Kekurangan gizi berjalan bertahap. Semakin awal dikenali, semakin mudah dihentikan sebelum menjadi stunting.

  1. Gagal tumbuhKenaikan BB melambat
  2. BB kurangBerat di bawah normal
  3. Gizi kurang sampai gizi burukTubuh makin kurus
  4. StuntingTinggi badan tertinggal
  5. MikrosefaliLingkar kepala kecil

Usia paling rawan: 0-24 bulan. Pada 2023, angka stunting naik dari 13,1% di usia 6-11 bulan menjadi 22,7% di usia 12-23 bulan. Bawa anak ke Posyandu, Bidan, atau Puskesmas untuk pemeriksaan rutin.

Penyebab

Mengapa anak bisa stunting?

Stunting terjadi ketika kebutuhan gizi anak lebih besar daripada asupannya dalam waktu lama.

Kebutuhan gizi meningkat

Misalnya karena sakit berulang, infeksi, lahir prematur atau berat lahir rendah.

Asupan gizi kurang

Misalnya ASI kurang, MPASI tidak cukup jumlah dan mutunya, kebiasaan makan salah.

Faktor yang melatarbelakangi

  • KemiskinanSulit mendapat makanan bergizi
  • Sanitasi dan air bersihKebersihan buruk memicu diare dan infeksi
  • PenelantaranAnak kurang mendapat perhatian dan pengasuhan
  • Status imunisasiImunisasi tidak lengkap, anak mudah sakit
  • PengetahuanKurang paham cara memberi makan anak
  • Kondisi ibu saat hamilGizi ibu kurang, bayi lahir kecil
Dampak

Dampak stunting tidak berhenti di masa kecil

Gizi sejak dalam kandungan sampai masa kanak-kanak memengaruhi otak, tubuh, daya tahan, dan kesehatan hingga dewasa.

Dampak stunting menurut bagian tubuh
Bagian tubuh Jangka pendek Jangka panjang
Otak Perkembangan otak terganggu Kemampuan berpikir dan prestasi sekolah menurun
Pertumbuhan dan otot Hormon pertumbuhan (IGF-1) menurun Pertumbuhan tinggi badan melambat: stunting
Daya tahan tubuh Mudah sakit Kapasitas kerja menurun, lebih sering sakit
Metabolisme Pembakaran lemak rendah Risiko diabetes, obesitas, penyakit jantung, hipertensi, kanker, dan stroke

Siklus antargenerasi

Tanpa diputus, stunting bisa berulang dari ibu ke anak.

  1. Anak stunting
  2. Remaja putri kurang gizi
  3. Ibu hamil kurang gizi
  4. Bayi lahir berat badan rendah

Berulang pada generasi berikutnya.

Posisi Indonesia di Asia Tenggara

Sumber: UNICEF/WHO/World Bank, Joint Child Malnutrition Estimates (edisi 2021). Data tingkat negara juga menunjukkan kecenderungan negara dengan stunting tinggi memiliki rata-rata IQ lebih rendah, meski bukan hubungan sebab-akibat langsung.

Yang bisa dilakukan keluarga

Mencegah lebih baik daripada mengobati

  • Timbang dan ukur setiap bulanDi Posyandu, Bidan, atau Puskesmas, terutama usia 0-24 bulan.
  • Beri protein hewani setiap hariTelur dan susu sesuai usia, ditambah ikan, ayam, atau daging.
  • ASI dan MPASI yang cukupPerhatikan jumlah dan mutu MPASI mulai usia 6 bulan.
  • Lengkapi imunisasiAnak yang jarang sakit lebih mudah tumbuh optimal.
  • Air bersih dan cuci tanganCegah diare dan infeksi yang menguras gizi anak.
  • Cukup tidur dan aktif bergerakTidur dan aktivitas fisik mendukung pertumbuhan.
  • Jaga gizi remaja putri dan ibu hamilMemutus siklus stunting sejak sebelum bayi lahir.
  • Pantau kurva di Buku KIAPastikan garis pertumbuhan anak terus naik mengikuti kurva.

Segera ke Puskesmas jika:

  • Berat badan anak tidak naik, atau malah turun, saat ditimbang
  • Garis pertumbuhan di kurva mendatar atau menjauh dari kurva seharusnya
  • Kader menyatakan anak berat badan kurang, gizi kurang, atau pendek
  • Bayi lahir prematur atau berat lahir rendah (langsung dirujuk ke RSUD)
Bagian 2

Untuk Petugas Kesehatan

Jejaring rujukan

Pencegahan dan tatalaksana berjenjang

Target ganda: tidak ada kasus stunting baru (pencegahan menghentikan perjalanan malnutrisi sebelum stunting) dan terapi kasus stunting yang sudah terjadi.

  1. Pencegahan primer

    Posyandu

    • Timbang dan ukur rutin
    • BB dan PB baik, tanpa weight faltering: PMT serta protein hewani (telur, susu) sesuai usia

    Rujuk Puskesmas bila weight faltering (+), BB kurang, gizi kurang/buruk, atau stunting

  2. Pencegahan sekunder

    Puskesmas

    • Evaluasi red flags dan pemberian PDK
    • Konfirmasi stunting
    • BB naik adekuat: lanjutkan terapi
    • Gizi buruk: F75/F100 dan mineral mix bila tersedia

    Rujuk RSUD bila BB tidak naik adekuat, stunting terkonfirmasi, atau F75/F100 tidak tersedia

  3. Pencegahan tersier

    RSUD

    • Evaluasi stunting vs non-stunting dan red flags
    • Pemberian PKMK
    • Evaluasi tiap 2 minggu

    Rujuk balik ke Puskesmas bila membaik. BBLR/prematur langsung ke RSUD.

Algoritme mengacu pada Sjarif, 2022.

Alur di Puskesmas

Tatalaksana weight faltering

Kriteria awal

Weight faltering, BB/U < −2 SD, atau BB/PB < −2 SD

  1. Tentukan apakah red flag dapat ditangani dokter umum Bila dapat: pemberian PDK dan asuhan nutrisi. Bila red flag atau penyebabnya tidak dapat ditangani dokter umum: rujuk RSUD.
  2. Evaluasi setelah 2 minggu Nilai apakah kenaikan berat badan sudah adekuat.
BB naik adekuat

BB/U ≥ −2 SD dan BB/PB ≥ −2 SD

Tindak lanjut: kembali ke Posyandu.

BB naik tidak adekuat

BB/U < −2 SD atau BB/PB < −2 SD

Tindak lanjut: rujuk RSUD.

Alur di RSUD

Evaluasi tiap 2 minggu dan rujuk balik

Rujuk balik Puskesmas

Semua terpenuhi:

  • BB/U ≥ −2 SD
  • PB/U atau TB/U ≥ −2 SD
  • BB/PB atau BB/TB ≥ −2 SD
  • Weight faltering (−)

Tindak lanjut: lanjut pemantauan di Posyandu.

Lanjutkan evaluasi di RSUD

Salah satu ditemukan:

  • BB/U < −2 SD
  • PB/U atau TB/U < −2 SD
  • BB/PB atau BB/TB < −2 SD
  • Weight faltering (+)

Bila memburuk setelah rujuk balik: kembali ke RSUD.

Tatalaksana

Tatalaksana stunting

  1. Terapi penyakit penyerta
  2. Asuhan nutrisi pediatrik
  3. Pangan keperluan medis khusus (PKMK)
  4. Edukasi aktivitas fisik, durasi tidur, dan imunisasi

Langkah asuhan nutrisi pediatrik

  1. Penilaian masalah dan status nutrisi
  2. Menentukan kebutuhan
  3. Cara pemberian
  4. Bentuk sediaan zat nutrisi
  5. Pemantauan

Sumber: Rekomendasi IDAI, Asuhan Nutrisi Pediatrik, UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik (2011).

Pangan Keperluan Gizi Khusus (PKGK)

Pangan Diet Khusus (PDK)
  • PDK dewasa
  • PDK anak/bayi: formula bayi, formula lanjutan (6-12 bulan), formula pertumbuhan (> 1 tahun), MPASI dan makanan selingan anak
Pangan Keperluan Medis Khusus (PKMK)
  • Diberikan di RSUD untuk kasus stunting dan red flags

Merujuk pada PerBPOM No. 24 Tahun 2020.

Mekanisme malnutrisi dan red flags yang perlu dievaluasi

Asupan nutrisi kurang
  • Asupan kalori tidak adekuat; MPASI kurang secara kualitas dan kuantitas
  • Produksi ASI kurang atau posisi menyusui tidak efektif
  • Penyiapan susu formula tidak adekuat
  • Gangguan makan, perlakuan salah, kebiasaan makan salah
  • Koordinasi oromotor buruk, GERD
Absorpsi tidak adekuat
  • Anemia, defisiensi besi
  • Atresia bilier, kolestasis
  • Diare kronik, infeksi
  • Fibrosis kistik, kelainan metabolik bawaan
  • Alergi susu sapi
Kebutuhan nutrisi meningkat
  • BBLR dan prematuritas
  • Infeksi kronik
  • Chronic lung disease
  • Penyakit jantung bawaan
  • Hipertiroidisme
  • Kondisi inflamasi, alergi
Kesimpulan

Tiga hal yang perlu diingat

  1. Stunting berdampak jangka pendek dan jangka panjangpada tumbuh kembang anak, sehingga mencegah lebih baik.
  2. Angka stunting turundengan mencegah kasus stunting baru dan menatalaksana kasus yang sudah stunting.
  3. Pemerintah pusat dan daerahmemegang peranan penting dalam upaya penurunan angka stunting, bersama keluarga dan seluruh jejaring layanan.

TUMBUH KIWARI

Timbang, Ukur, Monitor, Bandingkan, Upayakan, Hindarkan stunting. Plot BB/U, PB-TB/U, dan BB/PB-TB anak pada kurva WHO.